Kasus Kematian Covid-19 Samarinda Diatas Nasional, Jaang Usulkan Jam Malam

SAMARINDA, SSCNews- Perkembangan kasus Covid-19 di kota Samarinda terus meningkat, bahkan angka kematiannya telah melampaui rata-rata nasional yang berkisar 4,4 persen, sedangkan Samarinda sudah 6,3 persen.

Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di kota Samarinda secara virtual, Rabu (3/9/2020).

“Rakor ini seperti perintah bapak Walikota tadi pagi karena sangat mendesak untuk segera diambil langkah-langkah strategis kedepan. Update kemarin jumlah yang terkonfirmasi positif sudah mengkhawatirkan kita dengan jumlah 981 hampir 1.000,” ucap Sugeng.
Untuk update per 3 September sore tercatat terkonfirmasi positif 1.003, sembuh 597 dan yang meninggal 41.
Menurutnya peningkatan cukup tinggi jika dibandingkan gelombang I lalu. “Ini yang membuat kita cemas, jumlah kasus naiknya tajam dibandingkan Maret-Juli. Juli kita masih santai, September ini naiknya luar biasa,” tegas Sugeng.

Dikatakan Sugeng ini angka belum termasuk yang tanpa gejala. Apalagi kapasitas pemeriksaan PCR di Samarinda tidak dapat memenuhi kebutuhan skrinning kontak erat yang masif.

Dirincikannya, swab PCR telah dilaksanakan sebanyak 12.899, kemudian swab antigen sekitar 1.200-an, IFA sudah 13.009 dan rapid non IFA 15.000. “Ini belum cukup,” tegas Sugeng.

Sugeng juga menyampaikan adanya keterbatasan SDM tenaga kesehatan (nakes) yang mampu memberikan pelayanan karena banyaknya klaster nakes yang belum selesai.

“Dinkes minggu ini akan melaksanakan pelatihan swab bagi seluruh petugas Puskesmas untuk mempersiapkan tenaga di puskesmas bergerak secara aktif untuk testing, tracking, treatment dan memutus rantai penularan. Ini langkah terakhir untuk mengatasi keterbatasan dan jumlah positif terus bertambah,” tandasnya.

Sementara Walikota Samarinda yang sedang berada di Surabaya mengikuti kualifikasi program Doktor nya menyampaikan catatan penting di kondisi sekarang ini, dimana bukan hanya jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan namun bagaimana pelaksanaan Perwali no 43 tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Covid-19.

“Pelaksanaan Perwali 43 kita benar-benar bisa melakukan penegakkan dan perlu kita membatasi orang berkerumun jika tidak akan kita tindak. Kemudian perlakuan jam malam sampai jam 9, dan malam minggu jam 10,” kata Jaang.
Dikatakan Jaang juga tidak akan memberikan rekomendasi seperti sekarang ini dimana ketika mau mengadakan acara mengajukan ke gugus tugas meski mencantumkan 30 persen.

“Termasuk juga pasar, perlu kita batasi. Hanya buka sampai jam sekian. Apalagi kita tahu di Samarinda ini ada pasar 24 jam. Bukan kita tutup 100 persen, tapi batasi waktunya,” tegas Jaang.(big)