Tokoh Publik Harus Hati-Hati Memilih Admin Medsos

Seorang tokoh publik, apakah dia organisatoris, artis, politisi, apalagi mereka yang akan bersaing dalam pemilu, baik itu caleg maupun calon kepala daerah bahkan presiden, kebanyakan tidak punya waktu yang cukup untuk melakukan update pada akun media sosial mereka.

Namun mereka juga tidak mungkin untuk meninggalkan media sosial, mengingat sarana itu teramat penting untuk alat penciteraan diri dan membangun branding yang positif.

Maka kemungkinan besar, guna memenuhi kebutuhan itu ditugaskanlah admin untuk membuatkan postingan medsos agar selalu update dan tidak ketinggalan perkembangan. Terutama untuk mempublikasikan kegiatan dan sesekali menampilkan quote-quote ataupun buah pemikiran si tokoh.

Diharapkan dengan membaca akun medsos si tokoh, maka popularitas sekaligus simpati khalayak bisa diraih sehingga peluang sukses semakin meningkat. Dukungan akan mengalir berkat kepercayaan dan keyakinan masyarakat akan kualitas si calon tokoh.

Namun sayangnya, entah karena tidak paham ataukah terlalu pelit (nggak mau keluar modal), saya lihat sebagian (tidak banyak) tokoh yang postingan medsosnya justeru berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat. Ungkapannya terlihat jelek, logikanya kacau, bahasanya ‘culun’, bahkan cara dia menanggapi pertanyaan ataupun kritik netizen sangat tidak simpatik.

Hal ini tentu belum tentu karena pemikiran si tokoh yang jelek, atau intelektualitasnya rendah. Saya mengamati beberapa medsos tokoh yang setahu saya orangnya shaleh, otaknya cerdas, bahkan adab dan pergaulan dunia nyatanya sangat baik, namun sayang isi postingan medsosnya sangat memalukan.

Bahasanya amburadul, isi postingannya kacau bahkan responnya terhadap beberapa fenomena di masyarakat terkesan buruk. Bahasa-bahasa bijak yang mungkin dimaksudkan untuk menampakkan kecerdasan dan kearifan malah terlihat kayak orang yang tidak berpendidikan.

Hal ini bisa jadi karena ia salah memilih orang yang bertugas membantu menarasikan buah pikirannya.

Oleh karean itu admin sebuah akun medsos itu tidak hanya butuh semangat menggebu dan dukungan membabi buta pada si tokoh, tapi juga membutuhkan kemampuan menyusun narasi yang baik dan memiliki kecerdasan yang mumpuni.

Harusnya ini menjadi perhatian khusus bagi setiap tokoh publik yang memiliki akun media sosial yang dikelola oleh admin. Admin itu adalah perwakilan si tokoh dalam menyampaikan gagsan, ide bahkan respon terhadap aspirasi maupun kritik masyarakat.

Admin medsos harus orang yang punya kepekaan dan pandai menarasikan apa yang ada dalam pikiran si tokoh, bukan menarasikan yang ada dalam pikirannya sendiri. Ia harus mampu bersikap netral saat menuliskan buah pikiran si tokoh ke dalam postingan. Meskipun secara pribadi dia sendiri boleh jadi tidak sepaham dengan item yang disampaikan si tokoh, ia tak boleh merubah statemen si tokoh.

Ia bisa saja memberikan masukan kepada si tokoh bila memang merasa bahwa pendapat tokoh tersebut tidak tepat, namun ia tidak boleh merubahnya sendiri tanpa izin sang tokoh.

Jadi, bila anda saat ini adalah seorang tokoh publik, apakah tokoh masyarakat, petinggi organisasi, caleg, calon pemimpin, atau siapapun yang membutuhkan medsos sebagai alat sosialisasi dan publikasi. Kalau merasa tidak bisa mengelola sendiri akun medsos anda dan perlu memakai seorang admin. Maka carilah admin yang benar-benar mumpuni.

Admin yang mumpuni tidak hanya sekedar tahu seluk beluk pengelolaan medsos, namun juga memiliki kemampuan menyusun narasi yang baik, indah, berbobot, logis dan tidak terlihat culun atau bodoh. Si admin juga harus punya kecocokan dengan anda terutama dalam memaparkan buah pikiran anda yang ingin disampaikan ke masyarakat.

Jangan sampai gara-gara narasi yang salah anda yang seorang berhati baik disangka jahat, punya prestasi disangka bodoh, penuh semangat dan ide dalam mengabdi disangka pemalas dan tak bisa berbuat apa-apa.

Wallahu a’lam

(Abdillah Syafei)

*)Gambar dari google.