MELURUSKAN DISINFORMASI DAN KESALAHPAHAMAN BERPIKIR

Ada beberapa ungkapan di media sosial yang menurut saya berbahaya dan bisa merugikan orang banyak. Bahkan bisa menimbulkan fitnah bagi organisasi, kelompok maupun individu tertentu. Terutama berkaitan dengan pandemi covid-19 yang saat ini melanda negeri kita.

Inti utamanya adalah soal keyakinan apakah virus Corona itu memang ada ataukah tidak? Dan apakah pemerintah serta rumah sakit menipu masyarakat soal penyakit ini?

Baiklah… Mari kita berpikir secara logis dengan menganalisa indikator-indikator yang selama ini banyak digunakan oleh orang-orang yang menebarkan pemahaman tersebut di media sosial.

PERTAMA: Virus Corona itu sebenarnya tidak ada.

Untuk mengetahui kebenaran pernyataan ini sebenarnya sangatlah mudah. Terlalu banyak informasi yang bisa kita akses soal keberadaan virus ini bahkan jauh hari sejak belum ada pandemi.

Mungkin anda akan berkata, iya memang virus corona sudah ada sejak dulu kala, tapi covid-19 yang sekarang ini cuma dibesar-besarkan saja. Padahal sesungguhnya nggak ada.

Maka untuk menjawab tuduhan ini saya katakan, bahwa sebenarnya andalah sebagai penuduh yang harus mendatangkan bukti bahwa covid-19 itu kebohongan. Tapi okelah, sebenarnya cara mengeceknya sangat mudah. Temui mereka yang sudah pernah menjadi korban covid dan tanyakan bagaimana penderitanya mereka.

KEDUA, Sebagai lanjutan argumentasi pertama tadi, kemudian mungkin anda akan berkata bahwa saat ini sakit apapun juga akan dibilang corona. Orang kena panu juga kalau ke rumah sakit akan divonis corona.

Jelas sekali bahwa klaim (bahkan tuduhan) ini bukan berdasar fakta apalagi logika sehat. Apa yang anda tuduhkan itu hanya berdasar asumsi subjektif yang sangat tidak logis. Saya buktikan dengan fakta dan logika;

Coba saudara buka data resmi pemerintah. Yang mudah dibuktikan mungkin adalah yang di lingkup kota Samarinda misalnya. Hitung berapa jumlah pasien covid yang diumumkan bertambah setiap hari? Lalu bandingkan dengan jumlah orang sakit yang berobat ke poli-poli bahkan UGD salah satu rumah sakit saja. Tidak perlu semua rumah sakit.

Anda pasti sudah bisa memperkirakan berapa ratus atau bahkan berapa ribu orang yang sakit dan berobat ke rumah sakit setiap harinya kan? Apakah kemudian data pertambahan pasien covid-19 memang sebanyak pasien berobat tadi? Tidak kan?

Sebagaimana vonis anda bahwa sakit apapun kalau sudah ke rumah sakit pasti dikatakan corona. Maka terbukti faktanya itu tidak benar.

Cari data berapa jumlah orang yang meninggal di rumah sakit dan cek pengumuman gugus tugas penanganan covid, berapa data orang yang meninggal karena covid? Jauh sekali selisihnya.

Jadi, sampai disini sebenarnya sangat mudah membuktikan bahwa tuduhan itu BOHONG dan sangat tendensius. Dan celakanya tuduhan tidak logis itu dipercayai bukan hanya oleh orang awam, namun juga sebagian tokoh dan orang berpendidikan yang kehilangan akal sehat.

KETIGA: Mungkin ada pertanyaan lagi, bukankah semua pasien yang meninggal tidak ada yang murni karena corona tapi karena penyakit bawaan yang memang sudah parah?

Benar saudaraku, bahwa mayoritas pasien yang meninggal dikarenakan penyakit mereka yang memang sudah parah. Namun ini bukan menjadi bukti bahwa corona atau covid itu omong kosong. Kan para ahli sendiri sudah sering mengatakah bahwa corona virus itu memiliki efek yang tergantung dari imunitas tubuh kita?

Kalau imunitas tubuh kita baik karena memang dalam kondisi sehat dan tidak ada penyakit bawaan, maka meski sudah terinfeksi coronapun orang yang selama ini sehat akan tidak memiliki gejala. Atau kalaupun memiliki gejala akan terlihat sebagai sakit ringan saja.

Tapi bila ada penyakit bawaan yang memang sudah parah, maka ia kemungkinan akan menjadi akut bahkan berujung pada kematian ketika penyakit itu ditambah dengan aktivitas virus covid dalam tubuhnya.

Tahukah anda bahwa, juga tidak ada orang yang meninggal karena sebab langsung virus AIDS selama ini? Semua orang yang terinfeksi virus HIV meninggal adalah karena penyakit lain yang menjadi berat dan sulit sembuh lantaran kekebalan tubuh (imunitas) mereka menjadi lemah bahkan hilang. Jadi bukan karena AIDS langsung.

Lalu apakah itu bukti bahwa AIDS tidak ada? Nggak begitu kan logikanya?

KELIMA: Banyak beredar teori konspirasi dibalik pandemi ini.

Soal adanya konspirasi, itu bukan hal yang mustahil. Kelompok jahat tentu akan memanfaatkan situasi untuk mendapat keuntungan materi. Dan justru jika konspirasi golobalis terutama berkenaan dengan bisnis obat atau vaksin yang selama ini kita dengar adalah benar, maka malah menguatkan logika kalau penyakitnya ya memang ada. Boleh jadi bahkan penyakitnya dibuat oleh mereka.

Kalau dibuat (di laboratorium) tentu berarti ada. Bukan omong kosong. Dan mungkin juga virus ini tak terlalu ganas, sehingga semestinya tidak perlu dijadikan pandemi sebagaimana yang dilakukan jaman menkes ibu Siti Fadilah Supari tempo hari.

Justru kalau teori konspirasi ini benar, maka keberadan corona juga benar. Sangat tidak logis bila kita percaya adanya konspirasi namun sekaligus tidak percaya adanya corona. Nah, kalau kita ingin melawan kospirasi ini maka justeru kita berusaha menghindari penyakit (virus) yang mereka sebarkan supaya tujuan kospirasinya gagal.

Kalau kita malah menentang konspirasi dengan melakukan aktifitas yang menantang penyakit, justeru berarti kita memudahkan konspirasi mereka dilaksanakan.

Makanya, sekali lagi saya ingatkan fakta, bahwa tidak semua orang yang berobat langsung divonis corona dan tidak pula semua yang positif corona pasti mati. Tingkat kesembuhan yang terjadi selama ini faktanya sangat tinggi.

Realita ini membuktikan bahwa tidak benar ada kejahatan terstruktur pemerintah (dalam hal ini rumah sakit) untuk meng-coronakan semua keluhan sakitnya masyarakat. Yang hasil tesnya corona ya akan divonis coron dan yang tidak ya tidak divonis corona. Makanya jumlah pasien corona tak sebesar jumlah orang sakit yang berobat di rumah sakit.

Kalaupun ada kasus tertentu yang terjadi maka selain itu sangat kecil mungkin sekali kelalaian atau kejahatan oknum. Bukan kejahatan terorganisir pihak tenaga kesehatan. Bahkan sebagian kasus salah diagnosa atau terlanjurnya seseorang diperlakukan dengan protokol covid, adalah dikarenakan hasil tes yang belum keluar sementara gejala sakitnya sangat mirip covid.

Nah, sekarang bila kita simpulkan faktanyakan bahwa:

1) Virus corona itu memang benar keberadaannya.

2) Tidak semua orang sakit pasti divonis covid-19 oleh pihak kesehatan/rumah sakit

3) Covid mungkin tidak berujung kematian bagi orang yang imun tubuhnya kuat dan yang tidak punya penyakit bawaan. Tapi hati-hatilah karena mereka bisa menjadi pembawa virus. Dan ini berbahaya sekali bila ia tularkan kepada keluarga atau temannya yang punya penyakit dan punya imunitas yang sedang drop.

4) Kasus dengan jumlah sangat kecil terjadi berupa penyelewengan tindakan medis, tidak bisa digeneralisir. Selain itu sangat mungkin karena salah diagnosa atau bisa pula karena oknum jahat. Dan yang namanya oknum jahat itu ada di semua profesi.

5) Yang jelas dari berbagai uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa tuduhan yang mengatakan bahwa corona atau covid-19 ini tidak ada adalah salah besar.

6) Kalau benar ada konspirasi, maka justru itu membuktikan akan benar adanya virus corona/covid ini. Maka kita jangan mau memperbesar peluang penularan virus.

Semoga kita semua mau berpikir sehat dan logis dan tidak mudah ternakan hoax baik hoax yang berisi kebohongan murni maupun hoax yang berupa disinformasi.

Hoax tipe kedua ini (disinformasi) adalah yang selama ini justeru sering mengenai orang berilmu karena ia adalah berdasar fakta. Namun fakta ini kemudian menjadi hoax karena narasi yang sengaja atau tidak sengaja dibuat salah serta menyesatkan logika.

Wallahu a’lam