Abdillah Syafei Kembangkan Metode “SEHARI JAGO BERPANTUN”

SAMARINDA: Di kalangan pegiat teknologi pikiran dan pemberdayaan diri, Abdillah Syafei dikenal sebagai tokoh pendidikan yang gemar membuat trik dan program pelatihan yang instan. Beberapa metode pelatihan yang dibuatkan terbukti telah menghasilkan output yang berkualitas.

Puluhan tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2000-an murid satrawan legendari Kaltim Djumri Obeng ini telah membuat metode pelatihan menulis dalam sehari. Dan ini sudah diujicoba dalam berbagai workshop (pelatihan) yang dilakukannya.

Bahkan mantan redaktur koran harian daerah ini sudah mendidik puluhan wartawan yang kini sudah menjadi redaktur pula di berbagai penerbitan yang ada di Kalimantan Timur. Padahal Abdillah sendiri sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan jurnalistik. Ia adalah Sarjana Agama jurusan Tarbiyah (pendidikan).

Di pertengahan tahun 2019 lalu Abdillah telah membuat metode pelatihan berpantun yang disebutnya “Sehari Jago Berpantun”, sebuah program yang diharapkan bisa membuat seorang yang tidak bisa berpantun sama sekali menjadi mampu berpantun dengan baik hanya dalam sekali pelatihan.

“Bahkan kalau orang tersebut memang sudah berbakat bisa saja hanya dalan hitungan jam sudah jago,” ujar Abdilah melalui media ini, Kamis (23/07/2020).

Menurut Abdillah, sebenarnya otak manusia itu diciptakan oleh Allah dengan sangat canggih dan hebat. Sehingga tidak ada siswa yang bodoh. Yang ada adalah metode yang kurang tepat yang menyebabkan seseorang sulit untuk belajar. Kalau metodenya tepat maka ia akan bisa belajar secara cepat.

Abdillah menuturkan bahwa setiap orang itu unik, sehingga metode yang efektif dalam belajar juga unik alias tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Namun demikian menurut dia ada pola-pola pikiran bawah sadar yang bisa dirangsang untuk peka dan menangkap informasi dengan lebih mudah.

Oleh karena itu berbekal pengetahuan mind technologi (teknologi pikiran) yang dikuasainya, penasihat Miracle Hopnotist Indonesia (MHI) ini menciptakan jurus-jurus sederhana namun efektif untuk merangsang otak manusia agar merasa nyaman dan haus akan input pengajaran khususnya pantun.

Hal ini menurutnya sudah diujicoba kepada para seniman yang ada disekelilingnya. Sengaja atau tidak, sadar atau tidak sadar menurut Abdillah ia  sudah mengajarkan tehnik berpantun dengan para sahabat dan teman dekatnya.

“Alhamdulillah, bila dulu saya selalu disibukan dengan pesanan  membuat pantun dari kawan-kawan satu grup buat mereka tampil saat syuting atau naik panggung, saat ini hampir tidak pernah lagi. Karena rata-rata kawan-kawan dekat saya itu sudah lihai berpantun semua.” Jelas Abdillah.

Dia membuka kesempatan bagi kalangan lain yang ingin mempelajari tehnik berpantun dengan cepat ini. Mengingat pantun saat ini kembali populer di tanah air termasuk di Kalimantan Timur. Dalam berbagai kesempatan mulai dari perbincangan biasa, pidato hingga ceramah agama sudah banyak dimasukan pantun-pantun.

Program yang dibuat Abdillah ini mendapat dukungan dari para seniman Kaltim, termasuk Kabid Seni Budaya Dinas Kebudayan kota Samarinda Elansyah Jamhari. Bahkan ketua format ini telah merencanakan kerjasama untuk mengadakan pelatihan. Namun sayangnya karena ada pandemi covid, pelatihan batal dilakukan.

Pantun sendiri menurut Elansyah, merupakan tradisi sastra bertutur yang sudah ada sejak lama di Nusantara, khsusnya di kalangan orang Melayu. Ia menjadi hiburan sekaligus bagian daripada adat dan sopan santun bangsa kita. Mereka yang pandai berpantun terkesan cerdas, berpendidikan dan mengerti sopan santun sehingga disukai dan dihormati orang lain.

“Kita mengetahui bahwa pantun merupakan budaya warisan nenek moyang kita. Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang tidak boleh nusnah. Dan sekarang ini kita sulit mencari orang yang pandai berpantun. Makanya saya sangat mendukung langkah pak Abdillah yang membuat pelatihan sehari jago berpantun,” ujar Elansyah Jamhari di Studio TVRI Kaltim, Rabu (22/07/2020) lalu.

Oleh karena itu melestarikan tradisi berpantun merupakan hal positif yang menurut dia harus didukung. Apalagi di tengah gobalisasi informasi sekarang ini budaya asli bangsa kita sudah mulai banyak tergerus oleh masuknya budaya asing. (mediaibukota/Ali)