Ketika Nasi Barkati Menjadi Bubur

Awalnya lawan politik menari-nari gembira ketika pak barkati babak belur dihajar oleh postingan dan komentar netizen di medsos. Mereka mungkin sudah yakin bahwa nama Barkati akan jatuh karena polemik “resepsi pernikahan” yang sudah berhasil digoreng serenyah-renyahnya. “Ini kesempatan menjatuhkan Barkati sebelum pemilihan” mungkin itu yang ada di benak mereka.
Ibarat beras, masakan pak Barkati untuk menghadapi pemilukada tahun depan sudah terlanjur menjadi bubur. Namun pak Barkati bukan orang bodoh, beliau meski baru terjun di dunia politik namun sudah lama berkecimpung di dunia ormas yang iklimnya tak kalah mengerikan dibanding politik. 
Ibarat bubur, pak Barkati dengan dukungan orang disekelilingnya tahu kapan dan bagaimana memodifikasi bubur nasi itu berubah nama menjadi Bubur ayam yang lezat, gurih dan digemari banyak orang.
Walhasil, dengan keputusan dan pengumumannya di saat yang tepat, kini caci maki dan sumpah serapah berbalik menjadi simpati dan kekaguman. Banyak orang yang awalnya mencela pak Barkati malah berbalik memuji. Bahkan sekarang begitu banyak masyarakat yang dengan lantangnya mengatakan akan mendukung Barkati sebagai Walikota periode mendatang. 
Ya, kecuali tentunya mereka yang kemarin mencaci maki karena motif politik, sikap bijaksana dan mulia yang ditunjukan pak Barkati ini justeru membuat mereka gusar. Mengapa gusar? Karena usaha susah payah yang mereka lakukan untuk menggiring opini buruk terhadap pak Barkati beberapa hari ini berakhir mentah. 
Berbeda tentunya dengan masyarakat yang murni marah-marah kemarin karena kekhawatiran akan wabah corona. Mereka tak punya tendensi politik. Mereka bertindak murni karena hati nurani. Dimana saat mereka beranggapan pemimpinnya tidak perduli nasib rakyat mereka akan berontak. Dan begitu mereka sadar bahwa pemimpinnya mendahulukan kepentingan mereka bahkan dengan mengorbankan kepentingan si pemimpin itu sendiri, mereka akan sangat simpati dam berterimakasih.
Wallahu a’lam